Kamis, 19 Maret 2015

My First Love

Tiba-tiba aku teringat seseorang. Seseorang yang membuatku pertama kali jatuh cinta. Seseorang yang membuatku patah hati juga. Seringkali kali sosok itu hadir dalam mimpiku. Membuat perasaan ini menjadi tidak menentu. Kadang perasaan ini begitu menyiksaku. Membuatku gak enak makan dan gak enak tidur. Dia, dia dan kenapa dia? Dialah cinta pertamaku yang begitu istimewa. Masih kuingat dulu dia termasuk murid yang bengal di sekolah. Jadi langganan dipanggil guru BP karena bolos sekolah, merokok, hingga melawan guru. Ya begitulah sosoknya yang akhirnya bisa mencuri hatiku. Aku juga tidak tau kenapa akhirnya aku terpikat olehnya. Dulu saat dia mendekatiku aku merasa sangat risih. Tiap aku lewat depan kelasnya bersama temanku pasti dia akan teriak panggil-panggil namaku. Jengkel dan malu itu yang kurasakan saat itu dan jujur saat itu aku belum tau siapa dia. Hari-hari berikutnya terus berlanjut seperti itu dan aku cuekin. Tiap bel istirahat berbunyi dia pasti dengan temannya pergi ke toilet yang ada disebelah kelasku. Aku tau pasti itu modus untuk mencuri-curi pandangan padaku. Saat itu aku masih merasa risih karena teman-teman sekelas pasti akan mengejek dan mengolok-olokku. Apalagi ada seorang cewek di depan kelasku yang selalu melihatku dengan tatapan amat tajam seperti ada rasa tidak suka melihat si dia mendekatiku. Saat waktu pulang sekolah tiba aku akan pulang dengan teman-temanku menaiki sepeda miniku berwarna biru. Pasti dia akan menungguku kemudian loncat di boncengan belakang sepedaku sambil mengajakku becanda sepanjang perjalanan pulang sekolah. Berbulan-bulan begitulah yang dia lakukan untuk mencuri perhatianku. Lama-lama akupun merasa terbiasa dengan sikapnya dan kadang juga kangen kalau sehari saja dia tidak menggodaku. Pikiranku yang dulu tidak menyukainya karena status dia yang tergolong murid bengal di sekolah akhirnya terpatahkan juga. Hatiku luluh juga karena perhatiannya, tapi saat itu aku belum sadar kalau itu adalah perasaan cinta. Yang aku rasakan aku kangen kalau tidak bertemu dengannya dan aku sedih bila dia tidak memperhatikanku sehari saja. Pernah suatu ketika aku dilabrak seorang cewek yang mengaku pacarnya. Aku dimarahi olehnya karena dia menuduhku merusak hubungannya dengan dia. Aku tidak tau apa-apa karena saat itu kami juga hanya berteman. Ya begitulah ABG kalau lagi dilanda cemburu buta. Seiring berjalannya waktu kita semakin dekat. Aku mulai merasakan perasaan suka kepadanya. Aku juga tidak menyadari sejak kapan perasaan itu mulai tumbuh. Mungkin benar pepatah jawa yang bilang “witing tresno jalaran soko kulino”. Karena terbiasa tiap saat dia dekat denganku dan menggodaku akhirnya luluh juga perasaanku. Aku tidak ingat kapan sebenarnya kita jadian. aku juga tidak ingat kapan terjadi kata sepakat kalau kita memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Tahu-tahu kita sudah jalan dan sudah seperti menjadi pasangan. Satu peristiwa yang kuingat yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Suatu ketika dia datang ke rumah ngajak aku jalan-jalan. Aku meyetujuinya karena pas di rumah ortuku juga lagi keluar hanya ada nenek dan kakekku. Salahnya aku tidak pamitan ke kakek nenekku saat aku pergi keluar dengannya. Ternyata dia ngajak ke salah satu pantai yang ada di kotaku. Karena begitu senang pertama kalinya jalan bareng cowok aku mengiyakan saja. Ternyata lokasi pantai lumayan jauh, kira-kira 2 jam perjalanan naik sepeda motor. Kekhawatiranku mulai timbul, wah ini balik ke rumah pasti hampir malam dan ortuku pasti sudah pulang. Alamat aku pasti bakal dimarahi habis-habisan oleh ortuku. Tapi, karena perjalanan yang menyenangkan dan pertama kalinya juga aku kesana semua kekhawatiran itu lenyap sesaat. Aku asyik kembali menikmati perjalanan kencan pertamaku dengannya. Pantai itu merupakan kenangan pertama dan terakhir kami selama pacaran. Karena selama kami pacaran gak pernah lagi kami pergi jalan-jalan lagi seperti saat ini. Karena kisah jalan-jalan itulah akhirnya aku di ultimatum oleh ortuku tidak boleh dekat dengan si dia lagi. Kalau mau temenan dekat ya main ke rumah. Gak boleh lagi aku keluar jalan-jalan dengan teman-temanku apalagi cowok. Sejak hari itu pula, karena ketakutanku terhadap ortuku aku mulai menjauh darinya. Aku selalu menghindar bila bertemu muka dengannya dan sembunyi-sembunyi supaya dia tidak pernah bisa berbicara denganku. Tapi akhirnya suatu hari aku bertemu muka dengannya juga di warung sebelah sekolah. Dia tidak banyak bicara namun hanya memberiku sebuah amplop kecil berisikan surat. Ya itulah kali pertama aku menerima surat cinta. Surat cinta darinya yang isinya permintaan maaf karena telah mengajakku jalan hingga aku dimarahi oleh ortuku. Disitu juga dia mengungkapkan dia menyukaiku dan ingin tetap jalan denganku. Karena isi suratnya yang tak terduga akhirnya perasaanku kembali luluh. Aku memutuskan untuk jalan lagi dengannya tanpa sepengetahuan ortuku. Saat itu yang kupikirkan hanya indah saja. Dia bela-belain bolos sekolah demi nongkrong di warung sebelah sekolah untuk bertemu denganku. Satu yang aku sesalkan saat itu, kenapa aku malah senang ketika dia bolos sekolah untuk menemuiku. Kenapa saat itu aku tak menasehatinya untuk gak bolos sekolah. Mungkin karena kesempatan kita bertemu hanya saat itu sehabis pulang sekolah. Lepas itu mau hari minggu ataupun hari libur kami tidak bisa bertemu. Kala itu belum ada handphone seperti sekarang, hingga komunikasi kami terhalang. Kebiasaan membolosnya ternyata semakin berkembang, dalam satu minggu bisa-bisa dia 2 kali membolos sekolah. aku gak pernah membayangkan bagaimana efeknya kelak. Andai aku tahu aku akan membujukknya untuk tidak melanjutkan kebiasaan membolosnya. Hingga suatu saat aku merasakan fase lain dalam perjalanan cinta pertamaku. Kala itu masih sangat jelas aku ingat. Hari itu tepatnya saat jam istirahat kedua tiba. Aku melihat dari jendela kelasku kalau dia telah menungguku di warung sebelah sekolah seperti biasa. Aku dengan senang hati menemuinya. Kami pesan makanan dan ngobrol seperti biasa. Tapi hari itu karena kondisi warung yang ramai, kami disuruh ke ruangan sebelah aja supaya enak ngobrol sambil nunggu pesanan makanan kami datang. Aku tak mengira akan ada suatu kejadian luar biasa yang kualami. Kami ngobrol ngalor ngidul dan bercengkerama seperti biasa. Kami duduk bersebelahan sambil sesekali mencuri-curi pandang, khas sekali seperti para ABG yang lagi dimabuk cinta. Tapi tiba-tiba suatu kejadian tak terduga terjadi. Aku sangat kaget karena tiba-tiba wajahnya sudah sangat dekat denganku. Memandangku sesaat lalu tanpa sadar bibirnya telah menyentuh bibirku. Satu yang kurasakan saat itu, tubuhku panas dingin dan dada ini rasanya mau meledak. Sesaat rasanya dunia ini berhenti berputar dan waktu berhenti berjalan. Jantungku berdetak lebih kencang dan perasaanku sangat tidak karuan begitu sulit untuk digambarkan. Itulah yang aku rasakan kala aku mendapatkan ciuman pertamaku. Sudah terbayangkan betapa nakalnya dia kan? dia telah menciumku tanpa ijin, tanpa pemberitauan, tanpa mengatakan apa-apa padahal itu adalah pengalaman pertama dalam hidupku yang bahkan sampai kini tak bisa aku lupakan. Kejadian itu bagiku merupakan sebuah tanda bahwa dia adalah milikku, dia adalah kekasihku, dia adalah cintaku, dan dia adalah inspirasi rasa bahagiaku saat itu. Setelah itu hubungan kami terus berlanjut seperti sebelumnya,dan bahkan semakin mesra. Beda sekolah tak membuat jarak di antara kami. Namun beberapa kali aku mendengar gosip dari kawan-kawanku kalau dia dekat dengan gadis lain. Namun aku hiraukan karena aku percaya terhadapnya. Hingga suatu saat sepertinya gosip itu benar adanya. Aku patah hati, tapi aku berusaha berpikir positif dan memaklumi keadaan itu. Mungkin dia seperti itu karena denganku dia mulai merasa bosan. Kami tak pernah jalan-jalan berdua lagi, tak pernah main ke rumahku, tak pernah ada acara malam mingguan seperti layaknya pasangan kekasih. Kami hanya bisa bertemu dan ngobrol sebentar saat pulang sekolah tiba. Dan kalau bertemu ya gitu-gitu aja, mungkin itulah yang membuat hubungan kami terasa hambar. Aku tak pernah menyangka kalau itu merupakan awal segera berakhirnya hubungan kami. Kisah lainpun kemudian datang. Suatu ketika kami bertemu dan dia menyampaikan dia tidak naik kelas. Itulah yang akhirnya dia alami karena kebiasaan membolosnya. Saat mendengar itu beragam rasa datang silih berganti. Ada rasa sedih, malu, kasihan, kecewa, dll karena bisa dibayangkan seseorang yang sekolah dan tidak naik kelas itu adalah salah satu aib yang luar biasa. Itulah kenapa ibunya juga begitu marah mengetahui kejadian tersebut. Saat itu yang bisa kulakukan hanya membesarkan hatinya, dan memintanya untuk memperbaiki diri. Bulan berganti bulan dan tidak ada yang berarti dalam perjalanan cinta kami. Akupun juga semakin sibuk dengan sekolahku dan berbagai kegiatan ekstra yang aku ikuti. Karena keterbatasan komunikasilah beberapa bulan kemudian hubungan kami menjadi semakin renggang. Dia semakin jarang menemuiku sepulang sekolah. Kami menjadi jarang bertemu dan akhirnya komunikasi di antara kitapun menjadi sangat renggang. Hingga suatu saat dia menemuiku dan ingin membicarakan sesuatu yang serius denganku. Kami bertemu di tempat biasa dan akhirnya dia membuka pembicaraan denganku. Jujur saat itu aku tidak tahu apa yang dia mau dengan alur pembicaraannya yang kemana-mana dan membuatku bingung. Hingga akhirnya dia meminta kita berpisah dan menjadi teman saja karena dia merasa tidak nyaman dengan hubungan yang kita jalani selama ini. Aku sudah berpikir bahwa saat seperti ini pasti akan terjadi. Dan aku sadar dengan kondisi hubungan kita yang kurang baik. Sampai saat ini aku masih ingat hari itu tepatnya H-1 sebelum hari raya idhul adha kita putus. Bisa terbayangkan betapa sedih dan patah hatinya aku saat itu. Saat takbir berkumandang menyambut hari raya kurban, malam itu aku berurai air mata karena patah hati. Begitulah kandasnya cinta pertamaku yang menyisakan segudang pilu dan sakit hati. Meski setelah sekian lama kita berpisah namun sampai saat ini aku masih terkenang saat-saat indah bersamanya. Semua yang aku lakukan dengannya saat pacaran dulu baik senang maupun susah adalah pengalaman pertama bagiku. Benar-benar yang pertama kalinya. Aku jadi sadar itulah yang membuat mengapa sampai saat ini begitu sulit untuk melupakannya. Ibarat hatiku adalah selembar kertas putih, dialah yang pertama kalinya membuat coretan disana. Coteran yang dia buat kala itu menggunakan bolpoint bukan menggunakan pensil, sehingga sampai kapanpun tak akan bisa terhapuskan meskipun di tutup dengan tipe-x. Saat lapisan tipe-x mengelupas maka coretan itupun akan kelihatan lagi. Hanya ada satu cara untuk menghapusnya adalah dengan membakar kertas itu. Aku tak akan pernah bisa sampai kapanpun karena itu akan sangat menyakiti diriku sendiri. Pernah suatu ketika aku berusaha untuk merobek kertas itu, tapi sakit luar biasa yang aku rasakan. Ya begitulah gambaran perasaanku terhadapnya sampai sekarang. Aku tak peduli apa yang dia rasakan sekarang. Apakah dia masih mengingatku ataukah hanya menganggapku seberkas angin lalu. Bagiku dia sangat berarti, sungguh sangat berarti. Kita tak pernah tahu takdir apa yang akan menanti kita kelak di kemudian hari. Tuhan punya banyak cara untuk menuliskan takdir umatnya. Meski saat ini kita telah menempuh jalan masing-masing, namun satu yang bisa aku lakukan saat ini adalah dengan mengingat dan menyimpan seluruh kenangan kita bersama. Itulah caraku yang sederhana untuk menyayanginya.

Tidak ada komentar: