Kamis, 19 Maret 2015

My First Love

Tiba-tiba aku teringat seseorang. Seseorang yang membuatku pertama kali jatuh cinta. Seseorang yang membuatku patah hati juga. Seringkali kali sosok itu hadir dalam mimpiku. Membuat perasaan ini menjadi tidak menentu. Kadang perasaan ini begitu menyiksaku. Membuatku gak enak makan dan gak enak tidur. Dia, dia dan kenapa dia? Dialah cinta pertamaku yang begitu istimewa. Masih kuingat dulu dia termasuk murid yang bengal di sekolah. Jadi langganan dipanggil guru BP karena bolos sekolah, merokok, hingga melawan guru. Ya begitulah sosoknya yang akhirnya bisa mencuri hatiku. Aku juga tidak tau kenapa akhirnya aku terpikat olehnya. Dulu saat dia mendekatiku aku merasa sangat risih. Tiap aku lewat depan kelasnya bersama temanku pasti dia akan teriak panggil-panggil namaku. Jengkel dan malu itu yang kurasakan saat itu dan jujur saat itu aku belum tau siapa dia. Hari-hari berikutnya terus berlanjut seperti itu dan aku cuekin. Tiap bel istirahat berbunyi dia pasti dengan temannya pergi ke toilet yang ada disebelah kelasku. Aku tau pasti itu modus untuk mencuri-curi pandangan padaku. Saat itu aku masih merasa risih karena teman-teman sekelas pasti akan mengejek dan mengolok-olokku. Apalagi ada seorang cewek di depan kelasku yang selalu melihatku dengan tatapan amat tajam seperti ada rasa tidak suka melihat si dia mendekatiku. Saat waktu pulang sekolah tiba aku akan pulang dengan teman-temanku menaiki sepeda miniku berwarna biru. Pasti dia akan menungguku kemudian loncat di boncengan belakang sepedaku sambil mengajakku becanda sepanjang perjalanan pulang sekolah. Berbulan-bulan begitulah yang dia lakukan untuk mencuri perhatianku. Lama-lama akupun merasa terbiasa dengan sikapnya dan kadang juga kangen kalau sehari saja dia tidak menggodaku. Pikiranku yang dulu tidak menyukainya karena status dia yang tergolong murid bengal di sekolah akhirnya terpatahkan juga. Hatiku luluh juga karena perhatiannya, tapi saat itu aku belum sadar kalau itu adalah perasaan cinta. Yang aku rasakan aku kangen kalau tidak bertemu dengannya dan aku sedih bila dia tidak memperhatikanku sehari saja. Pernah suatu ketika aku dilabrak seorang cewek yang mengaku pacarnya. Aku dimarahi olehnya karena dia menuduhku merusak hubungannya dengan dia. Aku tidak tau apa-apa karena saat itu kami juga hanya berteman. Ya begitulah ABG kalau lagi dilanda cemburu buta. Seiring berjalannya waktu kita semakin dekat. Aku mulai merasakan perasaan suka kepadanya. Aku juga tidak menyadari sejak kapan perasaan itu mulai tumbuh. Mungkin benar pepatah jawa yang bilang “witing tresno jalaran soko kulino”. Karena terbiasa tiap saat dia dekat denganku dan menggodaku akhirnya luluh juga perasaanku. Aku tidak ingat kapan sebenarnya kita jadian. aku juga tidak ingat kapan terjadi kata sepakat kalau kita memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Tahu-tahu kita sudah jalan dan sudah seperti menjadi pasangan. Satu peristiwa yang kuingat yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Suatu ketika dia datang ke rumah ngajak aku jalan-jalan. Aku meyetujuinya karena pas di rumah ortuku juga lagi keluar hanya ada nenek dan kakekku. Salahnya aku tidak pamitan ke kakek nenekku saat aku pergi keluar dengannya. Ternyata dia ngajak ke salah satu pantai yang ada di kotaku. Karena begitu senang pertama kalinya jalan bareng cowok aku mengiyakan saja. Ternyata lokasi pantai lumayan jauh, kira-kira 2 jam perjalanan naik sepeda motor. Kekhawatiranku mulai timbul, wah ini balik ke rumah pasti hampir malam dan ortuku pasti sudah pulang. Alamat aku pasti bakal dimarahi habis-habisan oleh ortuku. Tapi, karena perjalanan yang menyenangkan dan pertama kalinya juga aku kesana semua kekhawatiran itu lenyap sesaat. Aku asyik kembali menikmati perjalanan kencan pertamaku dengannya. Pantai itu merupakan kenangan pertama dan terakhir kami selama pacaran. Karena selama kami pacaran gak pernah lagi kami pergi jalan-jalan lagi seperti saat ini. Karena kisah jalan-jalan itulah akhirnya aku di ultimatum oleh ortuku tidak boleh dekat dengan si dia lagi. Kalau mau temenan dekat ya main ke rumah. Gak boleh lagi aku keluar jalan-jalan dengan teman-temanku apalagi cowok. Sejak hari itu pula, karena ketakutanku terhadap ortuku aku mulai menjauh darinya. Aku selalu menghindar bila bertemu muka dengannya dan sembunyi-sembunyi supaya dia tidak pernah bisa berbicara denganku. Tapi akhirnya suatu hari aku bertemu muka dengannya juga di warung sebelah sekolah. Dia tidak banyak bicara namun hanya memberiku sebuah amplop kecil berisikan surat. Ya itulah kali pertama aku menerima surat cinta. Surat cinta darinya yang isinya permintaan maaf karena telah mengajakku jalan hingga aku dimarahi oleh ortuku. Disitu juga dia mengungkapkan dia menyukaiku dan ingin tetap jalan denganku. Karena isi suratnya yang tak terduga akhirnya perasaanku kembali luluh. Aku memutuskan untuk jalan lagi dengannya tanpa sepengetahuan ortuku. Saat itu yang kupikirkan hanya indah saja. Dia bela-belain bolos sekolah demi nongkrong di warung sebelah sekolah untuk bertemu denganku. Satu yang aku sesalkan saat itu, kenapa aku malah senang ketika dia bolos sekolah untuk menemuiku. Kenapa saat itu aku tak menasehatinya untuk gak bolos sekolah. Mungkin karena kesempatan kita bertemu hanya saat itu sehabis pulang sekolah. Lepas itu mau hari minggu ataupun hari libur kami tidak bisa bertemu. Kala itu belum ada handphone seperti sekarang, hingga komunikasi kami terhalang. Kebiasaan membolosnya ternyata semakin berkembang, dalam satu minggu bisa-bisa dia 2 kali membolos sekolah. aku gak pernah membayangkan bagaimana efeknya kelak. Andai aku tahu aku akan membujukknya untuk tidak melanjutkan kebiasaan membolosnya. Hingga suatu saat aku merasakan fase lain dalam perjalanan cinta pertamaku. Kala itu masih sangat jelas aku ingat. Hari itu tepatnya saat jam istirahat kedua tiba. Aku melihat dari jendela kelasku kalau dia telah menungguku di warung sebelah sekolah seperti biasa. Aku dengan senang hati menemuinya. Kami pesan makanan dan ngobrol seperti biasa. Tapi hari itu karena kondisi warung yang ramai, kami disuruh ke ruangan sebelah aja supaya enak ngobrol sambil nunggu pesanan makanan kami datang. Aku tak mengira akan ada suatu kejadian luar biasa yang kualami. Kami ngobrol ngalor ngidul dan bercengkerama seperti biasa. Kami duduk bersebelahan sambil sesekali mencuri-curi pandang, khas sekali seperti para ABG yang lagi dimabuk cinta. Tapi tiba-tiba suatu kejadian tak terduga terjadi. Aku sangat kaget karena tiba-tiba wajahnya sudah sangat dekat denganku. Memandangku sesaat lalu tanpa sadar bibirnya telah menyentuh bibirku. Satu yang kurasakan saat itu, tubuhku panas dingin dan dada ini rasanya mau meledak. Sesaat rasanya dunia ini berhenti berputar dan waktu berhenti berjalan. Jantungku berdetak lebih kencang dan perasaanku sangat tidak karuan begitu sulit untuk digambarkan. Itulah yang aku rasakan kala aku mendapatkan ciuman pertamaku. Sudah terbayangkan betapa nakalnya dia kan? dia telah menciumku tanpa ijin, tanpa pemberitauan, tanpa mengatakan apa-apa padahal itu adalah pengalaman pertama dalam hidupku yang bahkan sampai kini tak bisa aku lupakan. Kejadian itu bagiku merupakan sebuah tanda bahwa dia adalah milikku, dia adalah kekasihku, dia adalah cintaku, dan dia adalah inspirasi rasa bahagiaku saat itu. Setelah itu hubungan kami terus berlanjut seperti sebelumnya,dan bahkan semakin mesra. Beda sekolah tak membuat jarak di antara kami. Namun beberapa kali aku mendengar gosip dari kawan-kawanku kalau dia dekat dengan gadis lain. Namun aku hiraukan karena aku percaya terhadapnya. Hingga suatu saat sepertinya gosip itu benar adanya. Aku patah hati, tapi aku berusaha berpikir positif dan memaklumi keadaan itu. Mungkin dia seperti itu karena denganku dia mulai merasa bosan. Kami tak pernah jalan-jalan berdua lagi, tak pernah main ke rumahku, tak pernah ada acara malam mingguan seperti layaknya pasangan kekasih. Kami hanya bisa bertemu dan ngobrol sebentar saat pulang sekolah tiba. Dan kalau bertemu ya gitu-gitu aja, mungkin itulah yang membuat hubungan kami terasa hambar. Aku tak pernah menyangka kalau itu merupakan awal segera berakhirnya hubungan kami. Kisah lainpun kemudian datang. Suatu ketika kami bertemu dan dia menyampaikan dia tidak naik kelas. Itulah yang akhirnya dia alami karena kebiasaan membolosnya. Saat mendengar itu beragam rasa datang silih berganti. Ada rasa sedih, malu, kasihan, kecewa, dll karena bisa dibayangkan seseorang yang sekolah dan tidak naik kelas itu adalah salah satu aib yang luar biasa. Itulah kenapa ibunya juga begitu marah mengetahui kejadian tersebut. Saat itu yang bisa kulakukan hanya membesarkan hatinya, dan memintanya untuk memperbaiki diri. Bulan berganti bulan dan tidak ada yang berarti dalam perjalanan cinta kami. Akupun juga semakin sibuk dengan sekolahku dan berbagai kegiatan ekstra yang aku ikuti. Karena keterbatasan komunikasilah beberapa bulan kemudian hubungan kami menjadi semakin renggang. Dia semakin jarang menemuiku sepulang sekolah. Kami menjadi jarang bertemu dan akhirnya komunikasi di antara kitapun menjadi sangat renggang. Hingga suatu saat dia menemuiku dan ingin membicarakan sesuatu yang serius denganku. Kami bertemu di tempat biasa dan akhirnya dia membuka pembicaraan denganku. Jujur saat itu aku tidak tahu apa yang dia mau dengan alur pembicaraannya yang kemana-mana dan membuatku bingung. Hingga akhirnya dia meminta kita berpisah dan menjadi teman saja karena dia merasa tidak nyaman dengan hubungan yang kita jalani selama ini. Aku sudah berpikir bahwa saat seperti ini pasti akan terjadi. Dan aku sadar dengan kondisi hubungan kita yang kurang baik. Sampai saat ini aku masih ingat hari itu tepatnya H-1 sebelum hari raya idhul adha kita putus. Bisa terbayangkan betapa sedih dan patah hatinya aku saat itu. Saat takbir berkumandang menyambut hari raya kurban, malam itu aku berurai air mata karena patah hati. Begitulah kandasnya cinta pertamaku yang menyisakan segudang pilu dan sakit hati. Meski setelah sekian lama kita berpisah namun sampai saat ini aku masih terkenang saat-saat indah bersamanya. Semua yang aku lakukan dengannya saat pacaran dulu baik senang maupun susah adalah pengalaman pertama bagiku. Benar-benar yang pertama kalinya. Aku jadi sadar itulah yang membuat mengapa sampai saat ini begitu sulit untuk melupakannya. Ibarat hatiku adalah selembar kertas putih, dialah yang pertama kalinya membuat coretan disana. Coteran yang dia buat kala itu menggunakan bolpoint bukan menggunakan pensil, sehingga sampai kapanpun tak akan bisa terhapuskan meskipun di tutup dengan tipe-x. Saat lapisan tipe-x mengelupas maka coretan itupun akan kelihatan lagi. Hanya ada satu cara untuk menghapusnya adalah dengan membakar kertas itu. Aku tak akan pernah bisa sampai kapanpun karena itu akan sangat menyakiti diriku sendiri. Pernah suatu ketika aku berusaha untuk merobek kertas itu, tapi sakit luar biasa yang aku rasakan. Ya begitulah gambaran perasaanku terhadapnya sampai sekarang. Aku tak peduli apa yang dia rasakan sekarang. Apakah dia masih mengingatku ataukah hanya menganggapku seberkas angin lalu. Bagiku dia sangat berarti, sungguh sangat berarti. Kita tak pernah tahu takdir apa yang akan menanti kita kelak di kemudian hari. Tuhan punya banyak cara untuk menuliskan takdir umatnya. Meski saat ini kita telah menempuh jalan masing-masing, namun satu yang bisa aku lakukan saat ini adalah dengan mengingat dan menyimpan seluruh kenangan kita bersama. Itulah caraku yang sederhana untuk menyayanginya.

Selasa, 25 September 2012

Selasa, 04 Oktober 2011

MENGAPA 1 MENIT = 60 DETIK ?


Bilangan 60 digunakan untuk menyatakan waktu, sejam 60 menit, semenit 60 detik. Bilangan 60 ini digunakan pertama kali oleh bangsa Sumeria, jadi mereka berhitung dengan basis 60 atau disebut juga Sexagesimal.
http://lh3.ggpht.com/-_Yv0a9pNyKM/TllCN4HOjVI/AAAAAAAAMFA/zkV0T45JvN4/time-warp_thumb%25255B23%25255D.jpg?imgmax=800Alasan kenapa digunakan bilangan 60 adalah bilangan ini bilangan terkecil yang bisa dibagi oleh enam angka pertama yaitu: 1,2,3,4,5,6.

Jadi dengan mudah kita bisa terbayang: 1/2 jam = 30 mnt, 1/3 jam = 20 menit, 1/4 jam = 15 menit, dst. Bayangkan kalau satu jam = 100 menit, berarti 1/3 jam = 33,333 mnt??? Kalo kata orang, itu ngga bunyi …

Kalo kata matematisnya, 60 itu highly composite number, atau bilangan yang angka pembaginya/faktornya banyak, yaitu 1,2,3,4,5,6,10,12,15,20,30,60.


Detik

Detik atau sekon adalah satuan waktu dalam SI (Sistem Internasional, lihat unit SI) yang didefinisikan sebagai durasi selama 9.192.631.770 kali periode radiasi yang berkaitan dengan transisi dari dua tingkat hyperfine dalam keadaan ground state dari atom cesium-133 pada suhu nol kelvin.

Dalam penggunaan yang paling umum, satu detik adalah 1/60 dari satu menit, dan 1/3600 dari satu jam.

Sejarahnya

Pada awalnya, istilah second dalam bahasa Inggris dikenal sebagai "second minute" (menit kedua), yang berarti bagian kecil dari satu jam. Bagian yang pertama dikenal sebagai "prime minute" (menit perdana) yang sama dengan menit seperti yang dikenal sekarang.

Besarnya pembagian ini terpaku pada 1/60, yaitu, ada 60 menit di dalam satu jam dan ada 60 detik di dalam satu menit.

Ini mungkin disebabkan oleh pengaruh orang-orang Babylonia, yang menggunakan hitungan sistem berdasarkan sexagesimal (basis 60).

Istilah jam sendiri sudah ditemukan oleh orang-orang Mesir dalam putaran bumi sebagai 1/24 dari mean hari matahari. Ini membuat detik sebagai 1/86.400 dari mean hari matahari.

Di tahun 1956, International Committee for Weights and Measures (CIPM), dibawah mandat yang diberikan oleh General Conference on Weights and Measures (CGPM) ke sepuluh di tahun 1954, menjabarkan detik dalam periode putaran bumi disekeliling matahari di saat epoch, karena pada saat itu telah disadari bahwa putaran bumi di sumbunya tidak cukup seragam untuk digunakan sebagai standar waktu.

Gerakan bumi itu digambarkan di Newcomb's Tables of the Sun (Daftar matahari Newcomb), yang mana memberikan rumusan untuk gerakan matahari pada epoch di tahun 1900 berdasarkan observasi astronomi dibuat selama abad ke-18 dan 19.

Dengan demikian detik didefinisikan sebagai 1/31.556.925,9747 bagian dari tahun matahari di tanggal 0 Januari 1900 jam 12 waktu ephemeris.

Definisi ini diratifikasi oleh General Conference on Weights and Measures ke sebelas di tahun 1960. Referensi ke tahun 1900 bukan berarti ini adalah epoch dari mean hari matahari yang berisikan 86.400 detik. Melainkan ini adalah epoch dari tahun tropis yang berisi 31.556.925,9747 detik dari Waktu Ephemeris.

Waktu Ephemeris (Ephemeris Time - ET) telah didefinisikan sebagai ukuran waktu yang memberikan posisi obyek angkasa yang terlihat sesuai dengan teori gerakan dinamis Newton.

Dengan dibuatnya jam atom, maka ditentukanlah penggunaan jam atom sebagai dasar pendefinisian dari detik, bukan lagi dengan putaran bumi.

Dari hasil kerja beberapa tahun, dua astronomer di United States Naval Observatory (USNO) dan dua astronomer di National Physical Laboratory (Teddington, England) menentukan hubungan dari hyperfine transition frequency atom caesium dan detik ephemeris.

Dengan menggunakan metode pengukuran common-view berdasarkan sinyal yang diterima dari stasiun radio WWV, mereka menentukan bahwa gerakan orbital bulan disekeliling bumi, yang dari mana gerakan jelas matahari bisa diterka, di dalam satuan waktu jam atom.

Sebagai hasilnya, di tahun 1967, General Conference on Weights and Measures mendefinisikan detik dari waktu atom dalam International System of Units (SI) sebagai

Durasi sepanjang 9.192.631.770 periode dari radiasi sehubungan dengan transisi antara dua hyperfine level dari ground state dari atom caesium-133.

Ground state didefinisikan di ketidak-adaan (nol) medan magnet. Detik yang didefinisikan tersebut adalah sama dengan detik ephemeris. Definisi detik yang selanjutnya adalah disempurnakan di pertemuan BIPM untuk menyertakan kalimat

Definisi ini mengacu pada atom caesium yang diam pada temperatur 0 K. Dalam prakteknya, ini berarti bahwa realisasi detik dengan ketepatan tinggi harus mengkompensasi efek dari radiasi sekelilingnya untuk mencoba mengextrapolasikan ke harga detik seperti yang disebutkan di atas.

Setiap orang wajib tahu waktu, oleh karena itu mari kita pelajari konversi atau perubahan waktu berikut ini :

1 Detik = Sama Dengan Seper 60 Menit (1/60 Detik)
1 Menit = Sama Dengan 60 Detik
1 Jam = Sama Dengan 60 Menit
1 Jam = Sama Dengan 3.600 Detik
1 Hari = Sama Dengan 24 Jam
1 Hari = Sama Dengan 1.440 Menit
1 Hari = Sama Dengan 86.400 Detik
1 Minggu = Sama Dengan 7 Hari
1 Bulan = Sama Dengan 28 Sampai 31 Hari
1 Bulan = Sama Dengan 4 Minggu
1 Caturwulan Atau Cawu = Sama Dengan 4 Bulan
1 Semester = Sama Dengan 6 Bulan
1 Tahun = 365 Sama Dengan Hingga 366 Hari
1 Tahun = Sama Dengan 12 Bulan
1 Dasawarsa = Sama Dengan 10 Tahun
1 Abad = Sama Dengan 100 Tahun


Sumber :
apasih.com

Senin, 03 Oktober 2011

Ika Styeni: BONEKA VIRUS

Ika Styeni: BONEKA VIRUS

BONEKA VIRUS

Bisa bayangkan bahwa virus seperti HIV, Spylis, Gonorrehea dan virus-virus terkenal serta mikroba seperti ini bisa sangat manis dan lucu?

Seorang designer kreatif telah menciptakan mainan boneka dari virus dan mikroba terkenal yang dibuat dengan skala 1 x 1.000.000. Dan berikut ini hasilnya :



Bacteria Bookworm




Bacteria Clap (Gonorrhoea)




Bacteria Cold (Flu)




Bacteria Ecoli (Colon Bacillus)




Bacteria Flesheating (Necrotic Fasciitis)




Bacteria Headlice (Head Louse)




Bacteria Kissingdisease (Infectious Mononucleosis)




Bacteria Madcow (Rabies)




Bacteria Offensive (Badbreath)




Bacteria Pimple (Pustule)




Bacteria Pox (Syphilis)




Bacteria Sleepingsickness (Surra)




Bacteria Sorethroat (Tonsillitis)




Bacteria Stomachache (Dysentery)




Bacteria Ulcer




Bacteria Yeast (Brewers Yeast)




Human Immunodeficienct Virus (HIV)




Bacteria Ebola




Blackdeath

Sumber :
strano66.blogspot.com

Kamis, 25 Agustus 2011

PENGEMBANGAN MEDIA PERMAINAN PIN FIVE PADA MATERI POKOK SISTEM PERIODIK UNSUR DAN STRUKTUR ATOM


PENGEMBANGAN MEDIA PERMAINAN PIN FIVE PADA MATERI POKOK SISTEM PERIODIK UNSUR DAN STRUKTUR ATOM

(Ika Styeni, S.Pd 1,  Drs. Achmad Lutfi, M.Pd2)


Abstrak
Telah dikembangkan Media Permainan Pin Five  pada materi pokok sistem periodik unsur dan struktur atom sebagai media pembelajaran kimia kelas X SMA. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelayakan media permainan pin five yang telah dikembangkan berdasarkan kriteria materi, kebahasaan, penyajian, dan respon siswa.
Jenis penelitian ini merupakan penelitian pengembangan, dengan menggunakan model 4-D yaitu; define, design, develop dan disseminate.  Penelitian ini hanya dibatasi sampai tahap develop. Sasaran dalam penelitian ini adalah media permainan pin five sebagai media pembelajaran pada materi pokok sistem periodik unsur dan struktur atom. Media permaian pin five yang dikembangkan divalidasi oleh 1 ahli media dan 2 guru kimia serta diujicobakan kepada 10 siswa kelas XI-IPA SMA Negeri 2 Karangan. Instrumen yang digunakan berupa lembar validasi dan lembar angket. Indikator pencapaian kelayakan dari media permainan pin five ini adalah rata-rata persentase tiap kriteria  dari penilaian validator dan siswa > 61%, serta hasil belajar siswa > 65.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa media permainan pin five yang dikembangkan telah layak digunakan sebagai media pembelajaran kimia ditinjau dari hasil validasi guru kimia dan ahli media sebesar 81,11%. Kriteria yang menyatakan layak ditinjau dari 3 aspek yaitu: segi materi, kebahasaan, dan penyajian. Secara keseluruhan respon siswa terhadap media permainan pin five yang telah dikembangkan sebesar 91,4%. Tes hasil belajar siswa dengan menggunakan media permainan Pin Five mengalami ketuntasan belajar rata-rata 76,8.

Kata kunci:  Sistem periodik unsur dan struktur atom, pengembangan media, kelayakan


A.     PENDAHULUAN
Berdasarkan kurikulum 2006, sistem periodik unsur dan struktur atom merupakan salah satu materi pokok mata pelajaran kimia yang diajarkan di kelas X pada semester pertama. Oleh karena itu materi ini sangat penting dikuasai siswa, karena pada materi ini siswa diperkenalkan dengan unsur dan sifat-sifatnya, konfigurasi elektron, serta struktur atom. Pengetahuan awal tersebut merupakan dasar yang penting dan berguna untuk mempelajari ilmu kimia pada materi-materi pokok berikutnya.
Hasil wawancara  dengan salah satu guru kimia kelas X SMA 2 Karangan, Trenggalek menyebutkan bahwa hasil belajar siswa kelas X pada ulangan harian materi pokok sistem periodik unsur dan struktur atom, sebanyak 53 % siswa belum mengalami ketuntasan belajar karena nilainya masih di bawah standar yang telah ditetapkan oleh sekolah yaitu 65. Hasil belajar siswa yang kurang baik dalam materi pokok sistem periodik unsur dan struktur atom juga mempengaruhi hasil belajar pada materi pokok ikatan kimia.
Selama ini kegiatan pembelajaran di kelas banyak menggunakan metode pembelajaran langsung dan sangat jarang menggunakan media pembelajaran. Hal ini karena terbatasnya sarana yang ada di sekolah. Seringnya menggunakan metode pembelajaran langsung juga mengakibatkan siswa merasa jenuh dan belajar menjadi seperti sebuah beban. Dengan dilakukannya pembaharuan ini diharapkan akan mempengaruhi konsentrasi siswa dan  kecepatan dalam menyerap materi pelajaran, sehingga siswa dapat mencapai ketuntasan belajar.
Dari fenomena di atas maka diperlukan suatu variasi cara mengajar, salah satunya adalah menciptakan situasi belajar yang menyenangkan, hidup, dan santai. Salah satu upaya menciptakan situasi belajar yang menyenangkan, hidup, dan santai dalam proses belajar siswa adalah dengan mengajak siswa belajar sambil bermain. Dalam bermain juga terjadi proses belajar,  sehingga dari bermain ini siswa akan memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan (Purwanto, 2007:88).
Dalam menciptakan suasana “belajar sambil bermain” yang efektif diperlukan suatu media pembelajaran. Media pembelajaran adalah perangkat alat bantu atau pelengkap yang digunakan oleh guru atau pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau peserta didik. Salah satu alat bantu yang digunakan adalah permainan. Permainan adalah setiap kontes antar pemain yang berinteraksi satu sama lain dengan mengikuti aturan-aturan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu (Sadiman, 2006: 75).
Dalam permainan memungkinkan adanya partisipasi aktif dari siswa untuk belajar. Seperti kita ketahui, belajar yang baik adalah belajar yang aktif yaitu siswa lebih berperan aktif selama proses pembelajaran. Permainan mempunyai kemampuan untuk melibatkan siswa dalam proses belajar secara aktif. Dalam kegiatan belajar yang menggunakan permainan, peranan guru atau tutor tidak kelihatan sedangkan interaksi antar siswa menjadi lebih menonjol. Di sini setiap siswa menjadi sumber belajar bagi sesamanya (Sadiman, 2006: 78).
Media permainan Pin Five yang penulis kembangkan ini merupakan modifikasi dari permainan catur jawa dan permainan halma. Dalam permainan Pin Five ini siswa dituntut untuk bekerja sama dengan anggota regunya untuk menjawab pertanyaan tentang materi sistem periodik unsur dan struktur atom dan menyusun pin di atas papan permainan supaya membentuk susunan 5 pin berurutan baik vertikal, horizontal, maupun diagonal. Untuk mengalahkan regu lawan maka siswa harus bekerja sama dengan anggota regunya dan berkompetisi dengan regu lawan untuk memperoleh point tertingi dalam menyelesaikan permainan.
Media permainan ini diharapkan dapat menarik minat siswa serta menjadi salah satu media pembelajaran yang efektif  untuk menciptakan suasana belajar yang  menyenangkan, hidup, dan santai.
Melalui penelitian ini diharapkan diperoleh deskripsi mengenai kelayakan media permainan Pin Five sebagai media pembelajaran kimia pada materi pokok sistem periodik unsur struktur atom.

B.     METODE PENELITIAN
1.  Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan yaitu untuk mengembangkan media pembelajaran berupa Pin Five yang layak digunakan untuk pembelajaran kimia
2.  Sasaran Penelitian
Sasaran penelitian ini adalah media permainan Pin Five untuk materi pokok sistem periodik unsur dan struktur atom. . Sedangkan yang bertindak sebagai responden adalah 1 ahli media, 2 guru kimia, dan 10 siswa SMA kelas XI.
3.  Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian pengembangan media permainan Pin Five untuk materi pokok sistem periodik unsur dan struktur atom kelas X SMA  mengacu pada model pengembangan perangkat pembelajaran model 4-D (Four D Model) yang terdiri 4 tahap yaitu tahap pendefinisian (define), tahap perancangan (design), tahap pengembangan (develop), dan tahap penyebaran (dessiminate). Penelitian ini hanya terbatas sampai pada tahap develop, maka tahap keempat tidak dilakukan. Rancangan penelitian yang digunakan pada gambar berikut :
 



















a.      Tahap Pendefinisian (define)
Tujuan dari tahap ini adalah menetapkan dan mendefinisikan syarat-syarat pembelajaran. Penetapan tahap ini dilakukan dengan cara menganalisis tujuan dan batasan dari materi pembelajaran. Ada 4 tahapan, yaitu :
1)  Analisis Siswa
2)  Analisis Tugas
3)  Analisis Konsep
4)  Perumusan Tujuan Pembelajaran
b.      Tahap Perancangan (design)
Tahap ini bertujuan untuk merancang media permainan Pin Five. Kegiatan yang dilakukan meliputi penyusan tes yang didasarkan pada indikator pembelajaran serta pembuatan media permainan Pin Five. Media permainan Pin Five dirancang sedemikian rupa sehingga diharapkan akan dihasilkan suatu media permainan yang menarik dan bermanfaat bagi siswa dalam mempelajari materi pokok sistem periodik unsur dan struktur atom .
c.       Tahap Pengembangan (Develop)
Tahap ini bertujuan untuk menghasilkan media permainan Pin Five yang sudah direvisi berdasarkan masukan ahli media dan guru kimia, divalidasi oleh guru kimia, dan diujicobakan terbatas pada siswa. Tahap-tahapnya adalah:
1)  Telaah Instrumen penelitian
2)  Validasi Instrumen penelitian
3)  Telaah Media Oleh Ahli Media dan Guru Kimia
4)  Revisi
5)  Penilaian Media
6)  Uji Coba Terbatas
d.      Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data meliputi lembar angket, lembar observasi dan tes hasil belajar.
1)      Lembar Angket
a)      Angket I     : Telaah Instumen penelitian
Lembar angket I diberikan dengan tujuan untuk memperoleh masukan dan saran mengenai lembar instrumen yang telah dibuat oleh peneliti meliputi lembar telaah media, lembar validasai, dan lembar respon siswa terhadap media. Tujuannya adalah untuk memperbaiki draf instrumen yang berupa angket agar memenuhi kriteria penilaian yang diinginkan yaitu meliputi segi materi, segi bahasa, dan segi penyajian.
b)      Angket II    : Validasi Instrumen
Instrumen yang divalidasi meliputi lembar telaah, lembar validasi media, dan lembar respon siswa terhadap media permainan Pin Five. Para responden diminta untuk memberikan penilaian dan masukan atas instrumen yang telah disusun, sehingga intrumen tersebut layak untuk digunakan.
c)      Angket III  : Telaah Media Permainan Pin Five
Telaah dilakukan oleh ahli media dan guru kimia. Telaah ini bertujuan untuk mengetahui kualitas media yang dibuat oleh peneliti serta untuk mengetahui kedalaman materi pembelajaran yang disajikan dalam media permainan ini. Penelaah mengisi lembar angket yang telah disediakan untuk memperoleh saran demi perbaikan media yang sedang dikembangkan dan diikuti dengan revisi.
d)      Angket IV  : Validasi Media Permainan Pin Five
divalidasi yang dilakukan oleh orang ahli media dan orang guru kimia dengan mengisi lembar angket yang telah disediakan sebagai penilaian terhadap media yang dihasilkan.
e)      Angket V   : Respon Siswa Terhadap Media
Lembar angket V diberikan kepada siswa yang bertujuan untuk memperoleh penilaian tentang kelayakan media.




e.      Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian pengembangan media permainan Pin Five ini ada 2 yaitu:
1)      Metode Angket (Kuesioner)
Metode angket dalam penelitian ini ditujukan untuk memperoleh informasi mengenai media permainan Pin Five. Pelaksanaannya melalui 3 tahap yaitu : pertama telaah oleh ahli media dan guru kimia, tahap kedua yaitu validasi dari guru kimia dan ahli media, dan yang ketiga adalah uji coba terbatas kepada siswa. Pada tahap yang pertama yaitu telaah oleh ahli media dan guru kimia menggunakan jenis kuesioner terbuka karena disini ahli media dan guru kimia diberi kesempatan untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri. Pada tahap ke dua dan ke tiga menggunakan check list karena responden tinggal membubuhkan tanda check () pada kolom yang sesuai.
2)      Metode Tes
Jenis tes yang digunakan adalah tes prestasi (achievement test) yaitu tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu. Disini tes diberikan kepada siswa untuk memperoleh informasi sejauh mana ketuntasan belajar siswa pada materi pokok sistem periodik unsur dan struktur atom sebelum dan sesudah menggunakan permainan Pin Five.
Tes awal digunakan untuk mengetahui kemampuan awal siswa dalam penguasaan materi sistem periodik dan struktur atom, sedangkan tes akhir dilakukan untuk mengetahui kemampuan akhir siswa dalam menguasai materi setelah diberikan media pembelajaran Pin Five. Bentuk soal tes berupa tes obyektif yang berjumlah 25 butir.
f.        Metode Analisis Data
Saran berdasarkan hasil telaah oleh ahli media dan guru kimia disusun dalam sebuah tabel hasil telaah dan digunakan untuk memperbaiki media permainan Pin Five
Angket guru kimia yang terdiri dari pertanyaan-pertanyaan mengenai media permainan Pin Five yang telah diperoleh disusun berdasarkan skala Likert. Angket tersebut dinilai dengan skala sebagai berikut:
1)  Skor 4 untuk penilaian sangat baik
2)  Skor 3 untuk penilaian baik
3)  Skor 2 untuk tidak baik
4)  Skor 1 untuk penilaian sangat tidak baik
Data hasil angket dianalisis dengan menggunakan rumus persentase:
Persentase (%)    =   x 100%
Skor Kriterium = skor maksimum x jumlah item x jumlah responden
Berdasarkan hasil analisis angket akan diperoleh lima kriteria respon untuk menentukan layak tidaknya media yang sedang dikembangkan yaitu:
    Tabel 1  Persentase respon guru kimia
Skor rata-rata (%)
Kriteria respon
0 -20
21 – 40
41 – 60
61 – 80
81 – 100
Sangat lemah
Lemah
Cukup
Kuat
Sangat kuat

Angket siswa yang terdiri dari pertanyaan-pertanyaan mengenai media yang telah diperoleh juga disusun berdasarkan skala Likert. Angket tersebut dinilai dengan skala sebagai berikut:
1)  Skor 4 untuk penilaian sangat setuju
2)  Skor 3 untuk penilaian setuju
3)  Skor 2 untuk tidak setuju
4)  Skor 1 untuk penilaian sangat tidak setuju
Data hasil angket dianalisis dengan menggunakan rumus persentase:
Persentase (%)    =   x 100%
Skor Kriterium = skor maksimum x jumlah item x jumlah responden

Berdasarkan hasil analisis angket akan diperoleh lima kriteria respon yaitu:
    Tabel 2  Persentase respon siswa
Skor rata-rata (%)
Kriteria respon
0 -20
21 – 40
41 – 60
61 – 80
81 – 100
Sangat lemah
Lemah
Cukup
Kuat
Sangat kuat
                                      
Data tes hasil belajar siswa dianalisis menggunakan deskriptif kuantitatif, yaitu dengan menghitung persen ketuntasan belajar siswa. Ketuntasan belajar siswa secara individual dan klasikal. Dikatakan mencapai ketuntasan belajar siswa mencapai ≥ 65.

C.     HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1.      Pendefinisian (Define)
Dalam tahap ini, terlebih dahulu dilakukan beberapa analisis yaitu; analisis siswa, analisis tugas dan analisis konsep serta perumusan tujuan. Berikut ini akan dijelaskan tahapan sebagai berikut:
a.      Analisis Siswa
Analisis ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian penggunaan media dengan jenjang pendidikan siswa. Analisis ini dilakukan dengan memperhatikan ciri, kemampuan, dan pengalaman siswa.
b.      Analisis Tugas
Pada tahap ini peneliti menentukan tugas-tugas siswa sebagai pengalaman belajar sesuai dengan indikator materi pokok sistem periodik unsur dan struktur atom supaya hasil belajar siswa dapat tercapai.
c.       Analisis Konsep
Pada tahap ini yang dilakukan oleh peneliti adalah mengidentifikasi konsep-konsep utama yang akan diajarkan, kemudian menyusunnya secara sistematis dan merinci konsep-konsep yang relevan dan mewujudkannya dalam sebuah bentuk peta konsep materi pokok sistem periodik unsur dan struktur atom. Peta konsepnya dapat disajikan sebagai berikut:
 


















d.      Perumusan Indikator Hasil Pembelajaran
Tujuan pembelajaran menyesuaikan dengan indikator hasil belajar yang terdapat dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan dan selanjutnya tujuan tersebut akan menjadi dasar penyusunan media pembelajaran, khususnya dalam penyusunan tes. Tujuan pembelajaran dirumuskan dengan memperhatikan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator hasil belajar. indikator hasil belajar materi pokok sistem periodik unsur dan struktur atom yang dapat diuraikan sebagai berikut:
1)      Membandingkan perkembangan tabel periodik unsur untuk mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannnya.
2)      Menjelaskan dasar pengelompokan unsur-unsur.
3)      Menentukan partikel dasar (proton, elektron, dan neutron).
4)      Menentukan konfigurasi elektron dan elektron valensi.
5)      Menentukan massa atom relatif berdasarkan tabel periodik.
6)      Mengklasifikasikan unsur ke dalam isotop, isobar, dan isoton.
7)      Mengklasifikasikan unsur ke dalam golongan logam, non logam, dan metaloid.
8)      Menganalisis tabel, grafik untuk menentukan keteraturan jari-jari atom, energi ionisasi, afinitas elektron, dan keelektronegatifan.
9)      Menjelaskan perkembangan teori atom untuk menunjukkan kelemahan dan kelebihan masing-masing teori atom berdasarkan fakta eksperimen.
2.      Tahap Perencanaan (Design)
Pada tahap ini dilakukan perancangan media pembelajaran. Tahap ini meliputi penyusunan tes dan desain awal media pembelajaran.
a.       Penyusunan Tes
Penyusunan tes bertujuan untuk mengukur ketercapaian hasil belajar sesuai indikator hasil belajar dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan yaitu memahami sistem periodik unsur dan struktur atom.
Soal tes yang telah dibuat diujicobakan dulu ke siswa kelas XII SMAN 38 orang. Hasil uji coba soal tes tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui validitas soalnya. Untuk mengetahui validitas tes ini digunakan rumus korelasi product momen dengan angka kasar:
rxy  =
rxy = koefisien korelasi antara variable x dan y, dua variabel
         yang dikorelasikan.
x    = skor tes pada butir soal
y    = skor total yang dicapai
N   = jumlah peserta tes
Untuk mengetahui interpretasi mengenai besarnya koefisien korelasi adalah sebagai berikut:
0,800 – 1,000      = sangat tinggi
0,600 – 0,800      = tinggi
0,400 – 0,600      = cukup
0,200 – 0,400      = rendah
0,000 – 0,200      = sangat rendah
Hasil analisis soal-soal tes yang akan digunakan untuk tes hasil belajar siswa setelah menggunakan media permainan pin five disajikan pada table berikut:
Tabel 3.  Hasil Validasi Soal-soal Tes
No
Validitas
Keterangan
No
Validitas
Keterangan
Soal
Soal
1
0.569
Cukup
21
0.407
Cukup
2
0.109
Sangat Rendah
22
0.129
Sangat Rendah
3
0.362
rendah
23
0.057
Sangat Rendah
4
0.135
Sangat Rendah
24
0
Sangat Rendah
5
0.404
Cukup
25
0.065
Sangat Rendah
6
0.436
Cukup
26
0.37
Rendah
7
0.119
Sangat Rendah
27
0.598
Cukup
8
0.566
Cukup
28
0.202
Rendah
9
0.445
Cukup
29
0.205
Rendah
10
0.176
Sangat Rendah
30
0.364
Rendah
11
0.452
Cukup
31
0.3
Rendah
12
0.229
Rendah
32
0.445
Cukup
13
0.099
Sangat Rendah
33
0.36
Rendah
14
0.329
Rendah
34
0.226
Rendah
15
0.38
Rendah
35
0
Sangat Rendah
16
0.481
Cukup
36
0.116
Sangat Rendah
17
0.501
Cukup
37
0.308
Rendah
18
0.017
Sangat Rendah
38
0.34
Rendah
19
0.343
Rendah
39
0.297
Rendah
20
0
Sangat Rendah
40
0.105
Sangat Rendah
Berdasarkan data pada tabel di atas data yang diberi warna abu-abu adalah soal-soal yang tidak dipakai dalam tes hasil belajar siswa karena memiliki validitas yang sangat rendah.
b.      Pembuatan media permainan Pin Five
Media permainan Pin Five dirancang sedemikian rupa sehingga diharapkan akan dihasilkan suatu media permainan yang menarik dan bermanfaat bagi siswa dalam mempelajari materi pokok sistem periodik unsur dan struktur atom .
Langkah-langkah yang dilakukan adalah:
1)      Merumuskan konsep yang akan disajikan dalam media permainan Pin Five
2)      Memasukkan konsep materi pokok dan latihan soal-soal yang telah ditelaah dalam media Pemainan Pin Five
Bagian-bagian media permainan Pin Five terdiri atas :
a)      Papan Permainan Pin five
Papan permainan Pin five dibuat menyerupai papan catur, namun warna dari kotak-kotaknya adalah hijau dan orange. Di setiap bagian kotak baik hijau maupun orange dilengkapi dengan gambar yang mengandung unsur yang dituliskan disana.
b)      Design Pin
Pin Permainan Pin Five dibuat berbentuk bulat dengan gambar ilmuwan-ilmuwan kimia yang berjasa dalam perkembangan teori atom dan sistem periodik unsur. Pin dibuat dengan 2 warna yaitu biru dan kuning
c)      Design kartu pertanyaan
Kartu pertanyaan dibuat dengan 2 warna senada dengan warna papan permainan yaitu hijau dan orange. Bagian depan kartu menampilkan gambar dan besarnya point untuk pertanyaan yang tertulis dalam kartu. Bagian belakang kartu terisi pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan indikator pembelajaran dalam materi sistem periodik unsur dan struktur atom kelas X SMA.
d)      Design kartu kunci jawaban
Kartu kunci jawaban berisi kunci jawaban semua pertanyaan yang tercantum dalam setiap kartu pertanyaan.
e)      Design kartu aturan permainan
Kartu petunjuk permainan berisi tentang petunjuk permainan beserta aturan-aturan yang harus dipatuhi selama permainan pin five berlangsung.
f)    Design kartu door prize
Kartu door prize berisi kejutan dan bonus yang akan diperoleh pemain telah berhasil meletakkan 5 buah pin baik berurutan maupun tidak di atas papan permainan.
3.      Tahap Pengembangan (Develop)
Pada tahap ini bertujuan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran media interaktif yang layak setelah divalidasi dan direvisi berdasarkan masukan para pakar. Tahap ini meliputi :
a.       Telaah Instrumen penelitian
Telaah dilakukan dengan meminta saran dan masukan dari seorang guru kimia mengenai lembar instrumen yang telah dibuat oleh peneliti meliputi lembar telaah media, lembar validasi, dan lembar respon siswa terhadap media
b.      Validasi Instumen penelitian
Instrumen yang divalidasi meliputi lembar telaah, lembar validasi media, dan lembar respon siswa terhadap media permainan Pin Five. Dari data yang telah diperoleh diketahui bahwa hasil validasi lembar telaah dan lembar validasi mencapai persentase kelayakan sebesar 70,84 %. Sesuai dengan Skala Likert persentase yang dicapai tersebut menunjukkan respon yang ”kuat” sehingga lembar instrumen telaah dan validasi layak digunakan sebagai lembar instrumen penilaian pengembangan media permainan pin five.
Hasil validasi lembar instrumen respon siswa terhadap media mencapai persentase kelayakan sebesar 83,93 %. Sesuai dengan Skala Likert persentase yang dicapai tersebut menunjukkan respon yang ”sangat kuat” sehingga lembar instrumen telaah dan validasi layak digunakan sebagai lembar instrumen penilaian pengembangan media permainan pin five.


c.       Telaah Media Oleh Ahli Media dan Guru Kimia
Telaah media yang telah dirancang dilakukan oleh ahli media dan orang guru kimia SMA. Para penelaah memberikan masukan dan saran terhadap media yang dikembangkan berdasarkan kesesuaian antar konsep awal pengembangan media dan sistematika media yang dihasilkan.   
d.      Revisi
 Revisi dilakukan berdasarkan atas saran dan masukan dari penelaah, baik ahli media maupun guru kimia. Selanjutnya media permainan pin five yang telah direvisi kemudian divalidasi.
e.       Validasi Media
Validasi media permainan pin five dilakukan oleh  ahli media (dosen kimia) dan guru kimia. Para responden diminta untuk memberikan penilaian terhadap media permainan pin five dengan menggunakan lembar  validasi.
Hasil validasi media permainan pin five oleh ahli media dan guru kimia disajikan pada tabel berikut:
Tabel 4. Data Hasil Validasi Media Permainan Pin Five
Kriteria
Aspek Yang dinilai
PenilaianValidator
 Kelayakan 
Kriteria
1
2
3
 Tiap aspek (%)
Kelayakan (%)
Materi
Materi dalam Media Permaian Pin Five sesuai dengan kurikulum KTSP
3
3
3
               75.00
76.67
Materi dalam Media Permaian Pin Five relevan dengan indikator hasil belajar
3
3
3
75.00
Materi dalam Media Permaian Pin Five memuat kebenaran konten (fakta, hukum, konsep, dan prinsip-prinsip)
4
3
3
83.33
Materi dalam Media Permaian Pin Five sesuai struktur keilmuan
4
3
4
91.67
Materi dalam Media Permainan Pin Five Memperhatikan keterkaitan sains, teknologi, dan masyarakat.
3
1
3
58.33
Kebahasaan
Kejelasan tulisan dalam papan permainan maupun  pada kartu permainan
4
3
3
83.33
                    75.00
Kejelasan petunjuk permainan Pin Five
3
3
3
75.00
Kesesuaian penggunaan bahasa dengan tingkat pemahaman siswa
3
3
3
75.00
Penulisan menggunakan istilah dan simbol secara ajeg
2
3
3
66.67
Penyajian
Keserasian penampilan/ desain warna, tulisan, dan gambar dalam permainan Pin Five
3
4
4
91.67
                    89.58
Kualitas kertas yang digunakan untuk kartu pertanyaan, kartu jawaban, kartu door prize, maupun aturan permainan.
3
4
3
83.33
Bahan yang digunakan untuk pembuatan media permainan Pin Five efisien dan tahan lama
4
4
4
100.00
Media Permainan Pin Five dilengkapi dengan gambar yang menarik, jelas, dan mewakili materi yang ingin disampaikan
3
4
3
91.67
Rata-rata Kelayakan Media Permainan Pin Five
                    81.11

Respon guru kimia dan ahli media sebesar 81,11%. menyatakan bahwa media permainan Pin Five sangat layak digunakan sebagai media belajar. Kelayakan ini ditunjukkan jumlah persentase pernyataan responden mencapai ≥ 61%. Kriteria yang menyatakan layak ditinjau dari 3 aspek yaitu: aspek materi sebesar 76,67%, aspek kebahasaan sebesar 75,00%, dan aspek penyajian sebesar 89,58%.


f.        Uji Coba Terbatas
Pada tahap ini Media permainan Pin Five yang telah ditelaah dan direvisi, kemudian diujicobakan pada 10 siswa kelas XI SMA. Siswa yang mengikuti uji coba terbatas yaitu: 2 siswa dengan kemampuan akademis rendah, 6 siswa dengan kemampuan akademis sedang dan 2 siswa dengan kemampuan akademis tinggi.
Pelaksanaan uji coba media permainan pin five dilakukan dengan skenario sebagai berikut:
1)      Siswa secara bersama-sama mengerjakan soal pre test sebanyak 25 soal dengan waktu pengerjaan selama 45 menit.
2)      Siswa belajar dan bermain dengan menggunakan media permainan pin five selama 60 menit.
3)      Siswa diminta mengerjakan soal post test sebanyak 25 soal selama 45 menit secara bersama-sama
Data nilai pre test dan post test yang diperoleh kemudian dianalisis dengan cara deskriptif kuantitatif. Hasil pre test dan post test pada materi sistem periodik unsur dan struktur atom disajikan pada tabel berikut:
Tabel 5 Data Nilai Pre Test dan Post Test Siswa pada Uji  Coba   Terbatas Media Permainan Pin Five
No
Pre Test
Post Test
Kenaikan Nilai
Nilai
Ketuntasan
Nilai
Ketuntasan
1
68
Tuntas
76
Tuntas
8
2
60
Tidak tuntas
68
Tuntas
8
3
44
Tidak tuntas
68
Tuntas
22
4
72
Tuntas
84
Tuntas
8
5
56
Tidak tuntas
80
Tuntas
24
6
40
Tidak tuntas
68
Tuntas
28
7
76
Tuntas
88
Tuntas
12
8
64
Tidak tuntas
72
Tuntas
8
9
72
Tuntas
88
Tuntas
16
10
52
Tidak tuntas
76
Tuntas
24
Jumlah Rata-rata Kenaikan Nilai
15,8
Berdasarkan data di atas diperoleh peningkatan hasil belajar sesudah menggunakan media permainan pin five yaitu dengan kenaikan rata-rata sebesar 15,8. Ketuntasan belajar rata-rata siswa juga meningkat dari 60,4 menjadi 76,8 sehingga telah memenuhi standar ketuntasan minimal yang telah ditetapkan yaitu sebesar 65. Setelah pelaksanaan pre test dan post test siswa diminta memberikan penilaian terhadap media permainan pin five yang dikembangkan. Penilaian siswa dituliskan pada suatu angket yang akan menunjukkan respon siswa terhadap media permainan pin five. Hasil penilaian media pembelajaran oleh siswa disajikan pada Tabel 6 berikut:
Tabel 6 Data Hasil Respon Siswa Terhadap Media Permainan Pin Five
No
Indikator
Pesentase (%)
1
Media Permainan Pin Five menarik
100
2
Petunjuk  Permainan Pin Five jelas
80
3
Tulisan dalam Media Permaian Pin Five ini
100

mudah dibaca
4
Media Permaian Pin Fiv membangkitkan
100

motivasi untuk belajar
5
Bahasa yang digunakan dalam Media Permaian
100

Pin Five ini mudah dipahami
6
Belajar dengan menggunakan Media Permainan
80

Pin Five membuat anda lebih mudah memahami

materi sistem periodik unsur dan struktur atom
7
Belajar dengan menggunakan Media Permainan
80

Pin Five membuat anda lebih mudah dalam

menyelesaikan soal-soal yang ada
Persentase seluruh aspek
91.43
Kategori
Sangat Baik

Secara keseluruhan respon siswa terhadap media permainan pin five yang telah dikembangkan termasuk layak digunakan sebagai media pembelajaran karena memiliki persentase ≥ 61%, yaitu sebesar 91,43%. Persentase tersebut berada dalam interval 81-100% dan termasuk dalam kategori sangat baik/sangat layak.

D.    SIMPULAN DAN SARAN
  1. Simpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa media permainan pin five yang dikembangkan ini layak digunakan sebagai media pembelajaran  kimia pada materi pokok sistem periodik unsur dan struktur atom karena telah memperoleh persentase ≥61% untuk seluruh kriteria yang dapat diuraikan sebagai berikut:
a.       Respon guru kimia dan ahli media sebesar 81,11%. menyatakan bahwa media permainan Pin Five sangat layak digunakan sebagai media belajar. Kelayakan ini ditunjukkan dengan respon kuat yaitu jumlah persentase pernyataan responden mencapai ≥ 61%. Kriteria yang menyatakan layak ditinjau dari 3 aspek yaitu: aspek materi sebesar 76,67%, aspek kebahasaan sebesar 75,00%, dan aspek penyajian sebesar 89,58%.
b.      Secara keseluruhan respon siswa terhadap media permainan pin five yang telah dikembangkan sebesar 91,43%
c.       Rata-rata tes hasil belajar siswa dengan menggunakan media permainan Pin Five mengalami ketuntasan belajar yaitu sebesar 76,8
2.      Saran
Berdasarkan hasil analisis data dan kesimpulan di atas, dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:
a.       Pengembangan media permaian pin five pada penelitian ini hanya dilakukan sampai tahap pengembangan (develop). Oleh karena itu, perlu dilakukan lebih lanjut pada tahap penyebaran (disseminate) dengan menerapkan media yang telah dibuat dalam kegiatan belajar mengajar di kelas dengan jumlah siswa yang sebenarnya.
b.      Apabila penelitian ini dikembangkan lebih lanjut, maka diperlukan suatu instrumen yang digunakan untuk mengukur sejauh mana Media permainan pin five ini mampu memotivasi belajar siswa.

E.     DAFTAR PUSTAKA
Anggowo, Robertus dan Kosasih, A. 2007. Optimalisasi Media Pembelajaran. Jakarta: PT Grasindo 

Arsyad, Azhar. 1997. Media Pembelajaran. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

Hamalik, Oemar. 1994. Media Pendidikan. Bandung: PT Aditya Bakti

Ibrahim, Muslimin. 2001. Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran Menurut Jerold E.Kemp dan Thiagarajan. Surabaya: FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Lianawati, Lucia dan Ketut Lasmi. 2007. Bimbingan Pemantapan KIMA (Persiapan Ulangan Umum, Ujian Nasional, dan SPMB). Bandung: Yrama Widya

Masriyah. 1999. Analisis Butir Tes (Buku Ajar Mahasiswa). Surabaya: IKIP Surabaya

Masriyah. 1999. Validitas dan Reliabilitas (Buku Ajar Mahasiswa). Surabaya: IKIP Surabaya

Mulyasa. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Nur, Mohamad. 2003. Pemotivasian Siswa Untuk Belajar. Surabaya : Unesa

Nur, Mohamad. 2001. Laporan Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kontekstual untuk MIPA Bagi Siswa SLTP Kelas 1 Cawu 2. Surabaya: Pusat Sains dan Matematika Sekolah Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Surabaya.

Purba, Michael. 2004. Kimia Untuk SMA Kelas X. Jakarta : Erlangga

Purwanto, Ngalim. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Puskur. 2008. Kurikulum Kimia (online). ( http// www.puskur.net, diakses tanggal 15 Februari 2008)

Riduwan. 2003. Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian. Bandung: Alfabeta

Sadiman, Arief S. 2003. Media Pendidikan (Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya). Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

Sudiono, Anas. 1996. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

Suharsimi, Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta

Sukmadinata, Nana S. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya